11 2 / 2012
Antologi Rasa: Keras!
“Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka kelepek-kelepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, “Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love.” That’s probably as close as I can get hearing that she loves me. (Harris)”
― Ika Natassa, Antologi Rasa
The first funny part that I found when I read this novel is my expectation to be Keara Tedjakusuma. The second funky part is the fact that I do love Harris Risjad a lot more than Ruly Wantalaga! The third flirty part is however, I will pick Panji as my boyfriend than two of those guys. :p
Keras! Hahaha. Novel yang keras dan berani.
I give you my two thumbs up, Ika Natassa, and I started to think, are you the really Keara? Since just now I found one twitter account named Keara Tedjakusuma with Harris Risjad keep retweeting her. Hahaha. Apakah emang aku yang udik, atau hal-hal seperti ini emang sering terjadi sebelumnya? Anyone knows, please guide me :(
Novel ini mungkin emang nggak seberani dan sefrontal karya-karya Djenar Maesa Ayu yang sudah jadi top rated masterpiece itu. Tapi novel ini jauh juga dari keluguan piecesnya Ilana Tan (hahahaha, Din. Ilana Tan dibilang lugu? Gimana yang gak lugu?)
Saya benar-benar nggak menyesal memilih buku ini dari sekian banyak buku yang terpajang di rak buku Gramedia. Entah dengan cara apa Ika Natassa mebuat alur yang sebenarnya bukan alur yang baru di dunia percintaan ini, dengan tiga orang tokoh utama yang as we predict - physically perfect, meski as we may sure juga - emotionally broken, novel ini sebenernya tipikal teenlit-teenlit yang begitu-begitu juga, yah, meski aku suka endingnya. Sangat suka, karena adil buat semuanya. terlepas dari kesan teenlitnya yang masih sangat kental dan sangat mudah terbaca, tapi ada sesuatu yang membuat novel ini tidak membosankan, dan aku rasa itu adalah kecerdasan pengarangnya. Detail yang membunuh, begitulah bisa kujabarkan. Setiap detail setting dan pendalaman karakter yang dibawakan oleh Ika Natassa memang nggak main-main. Jadi nggak heran kalau kita bisa langsung terbawa ke dalam arus plotnya mulai halaman pertama.
Keara, Harris, dan Ruly, ketiganya sebenarnya punya penyakit dan kebodohan yang sama, their being hypocrate. Keara, Harris, dan Ruly sama-sama berada dalam taraf terlalu menjaga perasaan orang yang benar-benar dicintai, meski itu terbukti menyakiti diri mereka sendiri. Kekonyolan yang indah, bisa jadi begitu kata cewek-cewek pendamba keromantisan begitu membaca novel ini.
“Karena kecanggungan tidak pernah ada di antara dua orang yang tidak ada apa-apanya. So maybe there is something between us.”
― Ika Natassa, Antologi Rasa
And everything stops at how “maybe” had penetrate it’s languages deeply into their world.
11 2 / 2012
Republik Twitter: Another Pride of being an Indonesian…
If you read a lot of books you are considered well read. But if you watch a lot of TV, you’re not considered well viewed.
Lily Tomlin
I had a strong feeling that this movie gonna be blast.
http://www.wowkeren.com/film/republik_twitter/
Bukan lagi suatu rahasia kalau kita akan jauh lebih menyukai hal-hal yang dekat dengan kita daripada hal-hal yang jarang kita geluti. Itulah yang membuat saya meyakini bahwa karya Kuntz Agus ini akan dibanjiri penonton saat ditayangkan di ribuan sinema di Indonesia nantinya. Sebuah tayangan televisi, entah itu film, iklan, ataupun lawakan sekalipun tentunya akan mengundang lebih banyak peminat jika dikemas dalam wujud yang dekat dengan kehidupan nyata.
Now, let’s talk about this particular movie..
Republik Twitter.
Film yang konon katanya terinspirasi dari sebuah fakta bahwa Indonesia termasuk dalam salah satu negara pengguna twitter yang terbesar ini pun tampaknya mengambil strategi yang serupa untuk menarik simpati publik. Film yang mengambil plot tentang kehidupan percintaan anak muda (lengkap dengan segala tawa. tangis, dan ke”galau”an ala mereka ini) nyata-nyata mencoba membidik pasarnya dengan menjadikan demam twitter sebagai sarananya, sesuai dengan cuplikan berita singkat yang ditayangkan di sebuah infotainment waktu itu sepulang kerja. Meski cuma sekilas, namun jujur saja aku cukup tertarik dengan judulnya yang dikemas begitu singkat, namun menggigit.
Jujur aku juga seorang pengguna jejaring sosial yang satu ini, ya meski belum bisa dikatakan telah berada dalam jenjang menggilainya seperti apa yang dialami Sukmo, sang tokoh utama. Nggak bisa memungkiri, Twitter adalah salah satu sumber informasi yang paling update. Mulai dari berita, status teman-teman, lowongan pekerjaan, gosip artis, semuanya bisa didapat dengan cepat dan mudah di sini, *termasuk contekan-contekan kata-kata bijak tentunya. (Please do not believe facebook anymore. All of the status there were coming from Twitter :p)
One thumbs up for the script writer! :) Why one? Since a good idea is not always a fresh idea. Cerpen-cerpen, novel-novel, bahkan film-film tentang jejaring sosial sudah banyak dibuat sebelumnya, jadi jangan salahkan penonton kalau akhir cerita dari film ini begitu saja bisa langsung tertebak oleh mereka. Ya, tapi begitulah kita. Meski nyata-nyata sudah bisa mengerti bagaimana jalan ceritanya, selama itu menarik buat kita, dan dekat dengan kehidupan nyata kita, pastilah kita mau meluangkan waktu untuk menonton sejenak.
But then I asked myself, is it one sign of all Indonesian pride of being one of the largest twitter user in the world?
And, another question comes up.
What is the pride of being a twitter user? What have they done during their time using Twiter? Have they done something good because of Twitter?
I haven’t seen this movie before, buat I will soon, to answer the very question left above.
Mari kita nantikan…
08 2 / 2012
For me, fashion is just a matter of comfort… -prathivi-
(Source: fashionsociety)
Permalink 657 notes
08 2 / 2012
Women and fashion are just like french fries and it’s mozarella topping, or mice and their cheese. Well, okay, that’s only my analogy. You can use yours :p
Emang sih nggak semua cewek punya personal statement yang sama, tapi to see it as a general idea of how women should be nggak salah khan? Fashion is definitely huge and rich. Started from the very tip of our hair until our very tiny toes, fashion is always broadly defined.
Well okay. I am not one of those fashion addicted chicks, but still, for me fashion is something.
For me, fashion adalah tampil simpel dan nggak berlebihan. Fashion is how you can you look proper. Proper juga berarti luas lho. Hahaha. Padanan gaya yang sesuai antara clutch bag dengan dress yang kita pilih, that’s proper. Komposisi warna yang manis and just in the right steer antara tanktop, jeans, dan sneakers yang kita kenakan, that’s also what proper is all about. Kalau lebih jauh lagi, bisa juga proper didefinisikan dengan kesesuaian outfit yang kita pakai dengan jenis acara yang kita datangi. See how broad fashion is.
But, how wise we can see it can be another case.
Pernah nih, suatu ketika seorang kawan diundang untuk menghadiri suatu pesta pernikahan. Berhubung status sang kawan yang masih baru saja jadi anak lepas susu (baru saja menjadi perantau setelah 24 tahun hidup bersama ortunya) sudah pasti stok outfitnya jauh dibawah kapasitas normal seorang wanita muda. Sudah jelas bukan hal yang gampang kan mentransfer seisi lemari pakaiannya ke kota tempat bekerjanya yang baru? Yang terangkut jelas aja nothing but all of those most necessary outfit: pakaian kerja, pakaian tidur, pakaian santai, done!
And as every woman always react when they couldn’t find an appropriate outfit for such kind of event, she got over-panic. Dan perjalanan itupun terjadilah, perjalanan dari mall ke mall, butik ke butik, dari satu pusat perbelanjaan ke pusat perbelanjaan yang lain demi mencari selembar baju for the sake of not being an alien in those place full of her colleagues. And how glad she is finally when she find the perfect one, harga pun nggak jadi masalah, meski entah akan tersisa simpanan berapa untuk jatah makan sebulan yang belum dijalani.
And after the dress is on the hand, everything when just too smoothly, till the H-day.
If she had to make a check list:
Make up? (v) check!
Clothes? (v) check!
Earings? (v) check!
Necklace? (v) check!
Purse? (v) considered check! Kebetulan cuma dompet yang sehari-hari dibawa kemana-mana aja yang tersisa. Untung bentuk dan warnanya cukup elegan untuk dipadankan dengan dress classy dan that earth-based make up colour.
Woopz. Never forget. Parfume? (v) check!
b.e.a.u.t.i.f.u.l
And that inspection keeps on till the knee, down to toe. Weww crap! Wrong shoes.
Sang kawan itu pun terjingkat nggak percaya. How could it doesn’t seen match at all. The only wedges that she had and that black dress. Yeah, it should be high heel, or stiletto instead.
And the whole excitement itupun menguap seketika.
Direbahkannya badannya ke kasur, masih dengan mengenakan dandanan terbaiknya, minus wedges yang kini sudah ngejogrog di balik pintu kesakitan setengah mati karena baru saja ditendang sekeras-kerasnya oleh sang pemilik. Ironis memang, cuma karena sepasang wedges semua kelelahan hari ini, segenap uang yang sudah melayang hari itu serasa terbuang sia-sia. Ironis? Ataukah konyol?
Aku pun teringat pada sebuah judul film yang sampai kini pun masih masuk dalam top ten film terbaikku, Although the novel is a lot better. “The Devil Wears Prada” bener-bener telak membidik masalah kebanyakan wanita. See how fashion can control every little aspect of their life: reputation, career, community, and whatever.
This… stuff? Oh… ok. I see, you think this has nothing to do with you. You go to your closet and you select out, oh I don’t know, that lumpy blue sweater, for instance, because you’re trying to tell the world that you take yourself too seriously to care about what you put on your back. But what you don’t know is that that sweater is not just blue, it’s not turquoise, it’s not lapis, it’s actually cerulean. You’re also blindly unaware of the fact that in 2002, Oscar de la Renta did a collection of cerulean gowns. And then I think it was Yves St. Laurent, wasn’t it, who showed cerulean military jackets? And then cerulean quickly showed up in the collections of eight different designers. Then it filtered down through the department stores and then trickled on down into some tragic Casual Corner where you, no doubt, fished it out of some clearance bin. However, that blue represents millions of dollars and countless jobs and so it’s sort of comical how you think that you’ve made a choice that exempts you from the fashion industry when, in fact, you’re wearing the sweater that was selected for you by the people in this room. From a pile of stuff. –Miranda Priestly, quoted from “The Devil Wears Prada”-
So, wanna be one of that pathetic Miranda Priestly that always see things from brand and style? Atau maukah kita belajar untuk menetapkan batasan fashion untuk diri kita sendiri? Pernahkah kita berpikir bawah sebenarnya fashion is just a matter of comfort itself?
07 2 / 2012
Working Rhyme: been slapped, is it enough?
Thought that I am gonna cry.
Yes.
How cruel this life is.
Jika ada 600 orang yang memang harus dapat efisiensi dari perusahaan ini, I do really wish it was me, and not him.
Yeah, you could say that it is just a little naïve thought of mine, that’s yours.
But I’d rather be called as naïve and childish and too emotional than being heartless, see?
The fact is, the number of heartless people now is a lot bigger than those caring buddies.
Shame on this world!
He is nobody’s somebody, in this office.
Pekerjaannya nggak jauh-jauh dari antar-antar dokumen, berkutat dengan mesin fotokopi, atau sesekali menjajakan camilan-camilan khas bikinan istrinya dari kubikal satu ke kubikal lain demi dapat tambahan barang lima sampai sepuluh ribu tiap harinya. Mungkin nggak semua orang aware kalau dia ada, meskipun sosoknya selalu nyata ada.
He is really nobody’s somebody.
But he is a father in his family, and a responsible husband I believe.
Menjadi seorang OB jelas bukan pilihan siapapun, sama seperti keputusan untuk tidak melanjutkan sekolah, keputusan untuk mencari sesuap nasi dengan genjreng-genjreng dan nyanyi dengan nada sumbang dari bis ke bis, atuapun keputusan untuk menjual jabang bayi semata wayang yang sedari 9 bulan lalu dijaga dan diperjuangkan mati-matian. They picked the hardest option, doesn’t mean that they wanted to pick it, but because they have to.
Jahat! Kadang aku heran sendiri kenapa bisa tercipta dunia yang begini kejam. Terlalu banyak orang yang menilai entitas lain di sekitar dirinya hanya dari embel-embel posisi ataupun jabatan yang diduduki. Mengecilkan yang memang sudah kecil, dan meninggikan yang memang sudah menjulang. What a stupidly wise thinking.
Ya, berita yang kudengar pagi ini cukup mengagetkan, dan menyedihkan. Aku masih sangat ingat ekspresi wajah itu, gerakan bibir itu, pandangan mata itu, saat cerita demi cerita terlontar dari bibir nan letih itu. Mau nggak mau akhirnya aku pun mulai mempertanyakan Tuhan. Kenapa Engkau menciptakan bibir, Tuhan? Saat bibir itu tak punya kuasa untuk memberitakan kebenaran. Kenapa Engkau mencuptakan tangan, Tuhan? Saat tangan itu tak berdaya melawan penindasan. Kenapa harus ada atasan di atas atasan, dan bawahan di bawah bawahan? Kenapa harus ada orang kecil dan orang besar? Haha. Sometimes it sounds that I am just to communist, isn’t it? And still, for me, better being a communist, than again, being the one heartless. :p
Sudah hampir seminggu ini, namanya selalu kubawa dalam doa. Ya, sejumput kritisiku untuk mereka yang mengaku rukun dalam komunitas manapun. Apa sih arti kerukunan itu, jika kita cuma ditodong iuran saat ada kawan yang baru saja merampungkan pesta pernikahannya ataupun baru saja melahiran putra pertamanya, tapi melupakan iuran yang lebih pantas diberikan pada mereka yang anaknya sedang terbaring di rumah sakit, misalnya. How ridiculous! And damn I got involved into that ridiculous community and haven’t done anything to break those nasty rules long time built.
Bukan lagi rahasia kalau sang bapak OB yang bersahaja ini harus menghabiskan malamnya di rumah sakit berhari-hari ini karena seorang anaknya sakit, tapi berapa yang benar-benar membuka mata? Lebih mudah membuka mata saat ada orang lain yang tanpa sengaja melakukan kesalahan kerja. Ya, membuka mata dengan cepat, membuka mulutpun nggak kalah cepat. Baru sehari aja, beritanya pasti udah tersiar ke seluruh penjuru dunia. Hey dude, I am not exaggerating this part. Many times I wonder how can their tongue moves faster than their both feet.
Life can be hard for anyone, and I do believe that everyone has their own part and their own capacity to handle any problem that they shall meet. My question is, how many of us that really care? How many of us that willing to stop thinking of ourselves and started to see things from another perspectives? How many of us that wanted to feel another people’s feeling?
Menjadi pihak yang tertampar dengan fakta seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, tapi cukupkah rasa sakit akibat tamparan itu mendorong kita untuk bergerak, dan bertindak?
30 1 / 2012
ain’t no you…
These eyes are mine
Even these both legs
:I have never scratched your paint, so don’t ruin mine
Not theirs.
These hands are mine
Even these soul-less lips
: I have never push them to walk into this path, so don’t ask me to follow theirs
Not hers.
These nasty fingers are mine
Even this foolish thought
: I have never force her to shut her mouth up. So don’t seal mine
Me for myself, and vice versa
No need any approval
22 11 / 2011
Perlukah aku berkaca
Pada jerami yang meranggas
Dan lantai yang berderak
Pada seonggok jiwa tanpa asa
Dan lenteranya yang tanpa cahaya
Ataukah aku harus berkaca
Kepada simfoni surga
Yang lirih merayap melalui pintu-pintu bahagia
Kepada cucuran air harapan
Yang turuni curam hampa dan pelimbahan sesak dahaga
Adakah dunia punya makna?
Saat smua hanyalah sebatas harga
Adakah ciptaan masih punya cinta?
Saat mereka cuma paham rugi dan laba
Kita wajib tertawa
Saat yang kaya makin kaya
Dan yang tak punya tetap cumbui neraka
Kita layak menari
Saat penguasa menghitung jeti
Dan rakyat terdiam menyesap nanahnya sendiri
Aku adalah manusia masa lalu
Yang terbunuh oleh dunia baru yang tak terangkum nalarku
Yang hanya bisa menyapu nanar senja sambil berbantah:
Dan smua tak akan pernah lagi sama
22 11 / 2011
Kamu bilang jangan
Aku lakoni saja
Kamu bilang awas
Aku malah tutup telingaku rapat-rapat
Suaramu kian kandung jengah
Sedang aku sibuk yakinkan siapa saja, bahwa aku tak salah
Tanah kita pun makin gersang
Langit kita pun makin kelam
Nyaris tak tampak lagi jejak bintang
Dimana telunjukmu biasa bermain-main lapang
Yang tersisa mungkin hanya erang dan tangis yang gamang
Mungkin karena jarak ribuan laksa
Yang tergurat paksa antar hati kita
Karena aromamu yang tak lagi mudah kuraba
Dan jiwamu yang tak lagi bebas kujelajah
Resah ini sebesar cakrawala
Tapi rindu yang ada, lebih tak dapat kuterka
Amarah ini guncangkan nirwana
Tapi cinta yang tetap sama, buat aku tersungkur kalah juga
Hujan bawah setitik sadar
Aku tak sanggup lagi membuka mata
Tidak sebelum kamu ada
11 10 / 2011
Humanly Excuse
The time I said something wrong.
The time I took one dumb step.
The time I slip and fall down.
The time when I left.
Me = human
The time I drank from a wrong cup.
The time I hid on a shelter of a bad grass.
The time I dare to speed up coz I’m mad.
The time I dropped your fancy glass.
Me = human
I’m human. She’s human. He’s human. All are human.
I did mistake. She did wrong. He did bad.
All are human
But changing is one big step
But forgiving is another gift
For smiling is your rest of this day
Let us make a lot better
A lot better human.
11 10 / 2011
This is the last movie that I saw. Two thumbs up for those great collaboration of our Indonesia and Philpina. Though the ending, as always, is quite predictable but the message that was brought by the director deserves our bow. It is more than a usual drama. It touches heart, it delivers a more universal caring. You should note the nice soundtrack too. =^.^=
11 10 / 2011
Then I realized how suck is everything without your presence. Then I realized how big is me missing you.
Permalink 5 notes



